Merayakan Hari Jadi Arema dengan Kreatifitas Bahasa

Untitled-3.jpg
2020-08-11 12:33:29

Dr. Nurenzia Yannuar

Universitas Negeri Malang

Setiap bulan Agustus biasanya jalanan kota Malang selalu meriah dengan kibaran spanduk yang dipasang oleh para Aremania dan Aremanita. Mereka akan menambah semarak konvoi yang biasa dilakukan tepat pada hari ulang tahun Arema FC, pada tanggal 11 Agustus. Tahun ini sepertinya tidak terlalu banyak spanduk yang terpasang, pandemi COVID-19 membuat banyak kegiatan yang bersifat publik dan outdoor menjadi sangat terbatas.

Untungnya saya sempat mendokumentasikan semaraknya suasana bulan Agustus empat tahun yang lalu, dimana ada ratusan spanduk dan aneka macam tulisan yang terpajang di sepanjang jalanan utama kota Malang. Selama satu bulan itu saya dan suami berkeliling kota mengendarai sepeda motor sambil sesekali berhenti untuk mengambil foto. Tulisan yang tertera pada spanduk-spanduk itu isinya seputar pemberian selamat ulang tahun kepada Arema, ungkapan kebanggaan mereka terhadap Arema, pesan-pesan positif terhadap sesama pendukung Arema, dan nama-nama kelompok Aremania yang tersebar di seantero Malang. Yang istimewa, pesan-pesan itu disampaikan dalam berbagai bahasa: bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, dan Walikan.

Pada tulisan ini saya tertarik untuk membahas kata-kata dalam bahasa Walikan. Bahasa Walikan sendiri adalah sebuah ragam bahasa informal berdasarkan bahasa Jawa Malangan yang dianggap sebagai bahasa kebanggaan arek-arek Malang. Pola pembentukan kata dalam bahasa Walikan ini cukup unik, yaitu dengan membolak-balik segmen di dalamnya. Pola yang paling umum adalah pembalikan secara utuh, dari belakang ke depan. Kata ‘saya’ misalnya, akan berubah menjadi ‘ayas’, sedangkan ‘makan’ menjadi ‘nakam’. Walaupun contoh-contoh yang saya berikan tadi berasal dari bahasa Indonesia, sebenarnya 56% kata dalam Walikan berasal dari bahasa Jawa. ‘Iyo’ dibalik menjadi ‘oyi’, dan ‘arek’ menjadi ‘kera’.

Pada salah satu spanduk yang paling mencolok, terbentang di pojokan Jalan Bandung dan Jalan Veteran, tertulis: “Ayas kera Ngalam”.  Frasa Walikan ini berarti “Saya arek Malang”. Huruf-hurufnya besar berwarna putih dan ditulis di atas tanda palang berwarna merah dan biru. Di sisi atas sebelah kiri, ada tulisan #Save Arema Malang, dan di sebelah kanan atas, Ceritane Wes Bedo. Melalui spanduk ini, para Aremania seakan ingin menonjolkan identitas diri mereka sebagai bagian dari kota Malang tercinta. Mereka juga menunjukkan kepedulian mereka terhadap klub kebanggaan mereka, apapun kendala yang sedang/pernah dihadapi, Aremania akan selalu ada.

Di salah satu sudut Jalan Oro-Oro Dowo, ada spanduk besar berwarna hitam dengan tulisan biru, merah dan putih di atasnya. Tulisannya berbunyi, “Mbois Ilakes, we are Arema Together”. “Mbois Ilakes” adalah frasa dalam bahasa Jawa dan Walikan yang artinya “Keren sekali”. Sementara itu “We are Arema Together” berarti “Kami semua adalah Arema”. Yang menarik tentu saja adalah penggabungan kata-kata dalam bahasa Jawa, Walikan, dan Inggris dalam satu spanduk ini. Kebanggaan Aremania terhadap Arema diungkapkan dengan sebuah kreatifitas bahasa.

Tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, namun saya yakin dukungan terhadap Arema FC tidak pernah berhenti mengalir. Semoga pandemi COVID-19 segera berlalu, dan kota Malang segera bangkit sehingga dapat merayakan hari jadi Arema FC setiap tanggal 11 Agustus dengan meriah seperti biasanya. Talames Ngalu Nuhat, Malas Utas Awij, ker!


Now on air
photo

Afternoon Prime Time Show, menemani mitra kencana menyelesaikan aktifitas pekerjaan, kembali ke rumah atau dalam perjalanan “nongkrong” dll. Ditemenin oleh penyiar yang fun.

Info
Partners
Now on

RADIO KENCANA 91.9

Radio Kencana Radio Musik Terpilih
jika tidak bisa memutar radio gunakan popup

Featured image